KATA
PENGANTAR
Assalamualaikum
wr.wb., puji syukur penulis panjat kan kepada Allah SWT yang telah memberikan
kesempatan kepada penulis untuk menyelesaikan tugas Makalah yang berjudul “Masuknya
Islam di Indonesia “
Shalawat serta salam penulis hadiah kan kepada
junjungan kita nabi besar Muhammad SAW, yang mana berkat perjuangan beliau dan
para sahabat yang membawa kita dari alam kegelapan menuju alam yang terang
benderang yakni agama islam.
Selenjutnya
saya ucapkan terima kasih kepada semua pihak dalam penyusunan makalah ini
terlebih lagi kepada Dosen Pengampu yang bersedia membina saya sehingga saya
dapat menyelesaikan tugas ini dengan sebaik mungkin.
Akhirnya
saya mengharapkan adanya kritikan dan saran yang dapat membangun, karna manusia
tidak ada yang sempurna.
Tembilahan 25 Maret 2015
Penulis
Masuknya Islam di
Indonesia
1. Teori
Mekah
Teori
Mekah mengatakan bahwa proses masuknya Islam ke Indonesia adalah langsung dari
Mekah atau Arab. Proses ini berlangsung pada abad pertama Hijriah atau abad
ke-7 M. Tokoh yang memperkenalkan teori ini adalah Haji Abdul Karim Amrullah
atau HAMKA, salah seorang ulama sekaligus sastrawan Indonesia. Hamka
mengemukakan pendapatnya ini pada tahun 1958, saat orasi yang disampaikan pada
dies natalis Perguruan Tinggi Islam Negeri (PTIN) di Yogyakarta. Ia menolak
seluruh anggapan para sarjana Barat yang mengemukakan bahwa Islam datang ke
Indonesia tidak langsung dari Arab.[1] Bahan argumentasi yang
dijadikan bahan rujukan HAMKA adalah sumber local Indonesia dan sumber Arab.
Menurutnya, motivasi awal kedatangan orang Arab tidak dilandasi oleh nilainilai
ekonomi, melainkan didorong oleh motivasi spirit penyebaran agama Islam. Dalam
pandangan Hamka, jalur perdagangan antara Indonesia dengan Arab telah
berlangsung jauh sebelum tarikh
b.
Teori Gujarat
Teori
Gujarat mengatakan bahwa proses kedatangan Islam ke Indonesia berasal dari
Gujarat pada abad ke-7 H atau abad ke-13 M. Gujarat ini terletak di India
bagain barat, berdekaran dengan Laut Arab. Tokoh yang menyosialisasikan teori
ini kebanyakan adalah sarjana dari Belanda. Sarjana pertama yang mengemukakan
teori ini adalah J. Pijnapel dari Universitas Leiden pada abad ke 19.
Menurutnya, orang-orang Arab bermahzab Syafei telah bermukim di Gujarat dan
Malabar sejak awal Hijriyyah (abad ke 7 Masehi), namun yang menyebarkan Islam
ke Indonesia menurut Pijnapel bukanlah dari orang Arab langsung, melainkan
pedagang Gujarat yang telah memeluk Islam dan berdagang ke dunia timur,
termasuk Indonesia.[2]
Dalam
perkembangan selanjutnya, teori Pijnapel ini diamini dan disebarkan oleh
seorang orientalis terkemuka Belanda, Snouck Hurgronje. Menurutnya, Islam
telah lebih dulu berkembang di kota-kota pelabuhan Anak Benua India. Orangorang
Gujarat telah lebih awal membuka hubungan dagang dengan Indonesia dibanding
dengan pedagang Arab. Dalam pandangan Hurgronje, kedatangan orang Arab terjadi
pada masa berikutnya. Orang-orang Arab yang datang ini kebanyakan adalah
keturunan Nabi Muhammad yang menggunakan gelar “sayid” atau “syarif ”
di di depan namanya.
Teori
Gujarat kemudian juga dikembangkan oleh J.P. Moquetta (1912) yang
memberikan argumentasi dengan batu nisan Sultan Malik Al-Saleh yang
wafat pada tanggal 17 Dzulhijjah 831 H/1297 M di Pasai, Aceh. Menurutnya, batu
nisan di Pasai dan makam Maulanan Malik Ibrahim yang wafat tahun 1419 di
Gresik, Jawa Timur, memiliki bentuk yang sama dengan nisan yang terdapat di
Kambay, Gujarat. Moquetta akhirnya berkesimpulan bahwa batu nisan tersebut
diimpor dari Gujarat, atau setidaknya dibuat oleh orang Gujarat atau orang
Indonesia yang telah belajar kaligrafi khas Gujarat. Alasan lainnya adalah
kesamaan mahzab Syafei yang di anut masyarakat muslim di Gujarat dan Indonesia
c.
Teori Persia
Teori
Persia mengatakan bahwa proses kedatangan Islam ke Indonesia berasal dari
daerah Persia atau Parsi (kini Iran). Pencetus dari teori ini adalahHoesein
Djajadiningrat, sejarawan asal Banten. Dalam memberikan argumentasinya,
Hoesein lebih menitikberatkan analisisnya pada kesamaan budaya dan tradisi yang
berkembang antara masyarakat Parsi dan Indonesia. Tradisi tersebut antara lain:
tradisi merayakan 10 Muharram atau Asyuro sebagai hari suci kaum Syiah atas
kematian Husein bin Ali, cucu Nabi Muhammad, seperti yang berkembang dalam
tradisi tabut di Pariaman di Sumatera Barat. Istilah “tabut”
(keranda) diambil dari bahasa Arab yang ditranslasi melalui bahasa Parsi.
Tradisi
lain adalah ajaran mistik yang banyak kesamaan, misalnya antara
ajaran Syekh Siti Jenar dari Jawa Tengah dengan ajaran sufi Al-Hallaj
dari Persia. Bukan kebetulan, keduanya mati dihukum oleh penguasa setempat
karena ajaran-ajarannya dinilai bertentangan dengan ketauhidan Islam (murtad)
dan membahayakan stabilitas politik dan sosial. Alasan lain yang dikemukakan
Hoesein yang sejalan dengan teori Moquetta, yaitu ada kesamaan seni kaligrafi
pahat pada batu-batu nisan yang dipakai di kuburan Islam awal di Indonesia.
Kesamaan lain adalah bahwa umat Islam Indonesia menganut mahzab Syafei, sama
seperti kebanyak muslim di Iran.
d.
Teori Cina
Teori
Cina mengatakan bahwa proses kedatangan Islam ke Indonesia (khususnya di Jawa)
berasal dari para perantau Cina. Orang Cina telah berhubungan dengan masyarakat
Indonesia jauh sebelum Islam dikenal di Indonesia. Pada masa Hindu-Buddha,
etnis Cina atau Tiongkok telah berbaur dengan penduduk Indonesia—terutama
melalui kontak dagang. Bahkan, ajaran Islam telah sampai di Cina pada abad ke-7
M, masa di mana agama ini baru berkembang. Sumanto Al Qurtuby dalam
bukunya Arus Cina-Islam-Jawamenyatakan, menurut kronik masa Dinasti Tang
(618-960) di daerah Kanton, Zhang-zhao, Quanzhou, dam pesisir Cina bagian
selatan, telah terdapat sejumlah pemukiman Islam. Teori Cina ini bila dilihat
dari beberapa sumber luar negeri (kronik) maupun lokal (babad dan hikayat), dapat
diterima. [3]
Bahkan
menurut sejumlah sumber lokat tersebut ditulis bahwa raja Islam pertama di
Jawa, yakni Raden Patah dari Bintoro Demak, merupakan keturunan Cina. Ibunya
disebutkan berasal dari Campa, Cina bagian selatan (sekarang termasuk Vietnam).
Berdasarkan Sajarah Banten dan Hikayat Hasanuddin, nama dan gelar raja-raja
Demak beserta leluhurnya ditulis dengan menggunakan istilah Cina, seperti “Cek
Ko Po”, “Jin Bun”, “Cek Ban Cun”, “Cun Ceh”, serta “Cu-cu”. Nama-nama seperti
“Munggul” dan “Moechoel” ditafsirkan merupakan kata lain dari Mongol, sebuah
wilayah di utara Cina yang berbatasan dengan Rusia.
Bukti-bukti
lainnya adalah masjid-masjid tua yang bernilai arsitektur Tiongkok yang
didirikan oleh komunitas Cina di berbagai tempat, terutama di Pulau Jawa.
Pelabuhan penting sepanjang pada abad ke-15 seperti Gresik, misalnya, menurut
catatan-catatan Cina, diduduki pertama-tama oleh para pelaut dan pedagang Cina.[4]
Semua
teori di atas masing-masing memiliki kelemahan dan kelebihan tersendiri. Tidak
ada kemutlakan dan kepastian yang jelas dalam masing-masing teori tersebut.
Meminjam istilah Azyumardi Azra, sesungguhnya kedatangan Islam ke
Indonesia datang dalam kompleksitas; artinya tidak berasal dari satu tempat,
peran kelompok tunggal, dan tidak dalam waktu yang bersamaan.
C. Metode-Metode
Masuknya Islam Di Indonesia
Sebagaimana
yang telah dijelaskan sebelumnya islam masuk di Indonesia dibawa oleh pedagang
asing yang singgah di Indonesia sehingga bisa disimpulkan masuknya islam di
Indonesia dilakukan dengan cara damai atau tanpa ada penumpahan darah.
1.
Saluran perdagangan
Masuknya
pedagang-pedagang asing dikepulauan Indonesia seperti arab. Cina, Persia dan
India merupakan awal mula masuknya islam di Indonesia yaitu bermula dari
bermukimnya para pedagang asing di pesisir jawa yang penduduknya masih kafir.
Hingga akhirnya mereka mampu mendirikan masjid-masjid dan pemukiman-pemukiman
muslim.[5]
2. Saluran
perkawinan
Dilihat
dari sudut ekonomi, para pedagang muslim memiliki status sosial lebih baik dari
pada pribumi Indonesia sendiri, sehingga tidak sedikit penduduk pribumi yang
tertarik denan para pedagang muslim tersebut khususnya putri-putri raja dan
bangsawan. Proses islamisasi ini dilakukan sebem adanya pernikahan yang
kemudian dilanjutkan dengan proses pernikahan sampai pada akhirnya mereka
mempunyai keturunan dan mampu membuat daerah-daerah atau bahkan
kerajaan-kerajaan islam.
Jalur
perkawinan ini lebih menguntungkan apabila terjadi antara saudagar muslim
dengan anak bangsawan atau anak raja dan adipati, karena bangsawan, raja, dan
adipati dapat mempercepat proses masuknya islam di Indonesia.
Demikianlah
yang terjadi antara raden rahmat atau sunan ampel dengan nyai manila. Sunan
gunung jati dengan putrid kaunganten. Brawijaya dengan putri campa yang
menurunkan raden fatah ( raja pertama demak ).
3. Saluran
tasawuf
Pengajar-pengajar
tasawauf atau para sufi, mengajarkan teosofi yangb bercampur dengan ajaran yang
sudah dikenal luas oleh masyarakat Indonesia. Mereka mempunyai kemampuan dan
kekuatan-kekuatan menyembuhkan. Diantara mereka ada juga yang mengawini putri-putri
bangsawan setempat . dengan ilmu tasawufnya mereka mengajarkan islam kepada
pribumi yang mempunyai persamaan dengan alam pikiran mereka yangb se4belumnya
menganut agama hindu, sehingga agama baru itu mudah dimenerti dan di terima.
Diantara ahli-ahli tasawuf yang memberikan ajaran yang mengandung persamaan
dengan alam pikiran Indonesia pra islam itu adalah Hamzah Fansuri di aceh, syeh
lemah abang, dan sunan panggung di jawa. Ajaran mistik seperti ini masih
berkembang di Indonesia di abad ke-19 M bahkan di abad ke-20 M ini.[6]
4. Saluran
pendidikan
Islamisasi
juga dilakukan melalui pendidikan, baik pesantren maupun pondok yang
diselenggaakan oleh guru-guru agama, kiai-kiai, dan ulama-ulama. Di pesantren
atau pondok itu, calon ulama, guru agama, dam kiai mendapat pendidikan agama.
Setelah kelua dari pesantren, mereka pulang ke kampung masing-masing kemudian
mereka berdakwah ketempat tertentu mengajarkan islam. Misalnya, pesantren yang
didirikan oleh raden rahmat di Ampel Denta Surabaya dan sunan giri di giri. Keluaran
pesantren giri ini banyak yang di undang ke maluku untuk mengajarkan agama
islam.[7]
5. Saluran
kesenian
Saluran
islamisasi melalui kesenian yang paling terkenal adalah pertunjukan wayang.
Dikatakan, sunan kalijaga adalah tokoh yang paling mahir dalam mementaskan
wayang. Dia tidak pernah meminta upah pertunjukan, tetapi ia meminta para
penonton untuk mengikutinya mengucapkan kalimat syahadat. Sebagian besar cerita
wayang masih dipetik dari cerita mahabarata dan Ramayana, tetapi di dalam
cerita itu disisipkan ajaran dan nama-nama pahlawan islam. Kesenian-kesenian
lain juga dijadikan alat islamisasi, seperti sastra ( hikayat, babad, dan
sebagainya ), seni bangunan dan seni ukir.
6. Saluran
politik
Di
maluku dan sulawesi selatan, kebanyakan rakyat masuk islam setelah rajanya
memeluk islam terlebih dahulu. Pengaruh politik raja sangat membantu
tersebarnya islam didaerah ini. Di samping itu, baik di sumatera dan jawa
maupun di Indonesia bagian timur, demi kepentingan politik, kerajaan-kerajaan
islam memerangi kerajaan-kerajaan non-islam. Kemenangan kerajaan islam secara
politis banyak menarik penduduk kerajaan bukan islam itu masuk islam.[8]
D. Faktor
Pendukung Islam Cepat Berkembang di Indonesia
Beberapa
hal menyebabkan agama Islam terus berkembang pesat di Indonesia diantaranya
sebagai berikut:
1. Adanya
perkawinan antara pedagang Arab, Persia, dan Gujarat dengan penduduk Indonesia.
2. Adanya
sistem pendidikan pondok pesantren.
3. Gigihnya
para da'i atau mubaligh dalam menyebarluaskan Islam
4. Metode
penyampaiannya mengena dihati masyarakat, sebab disesuikan dengan latar
belakang kebudayaan yang dimiliki, misalnya:
a. Wayang kulit
b. seni bangunan, dan
c. seni karawitan/seni gamelan
a. Wayang kulit
b. seni bangunan, dan
c. seni karawitan/seni gamelan
Ajaran
sederhana, mudah dimengeri dan diterima. Syarat memeluk Islam mudah, yaitu
dengan mengucapkan Kalimat Syahadat. Didalam agama Islam tidak mengenal sistem
kasta. Upacara keagamaan cukup sederhana, tidak memerlukan banyak biaya.
Seiring surutnya kerajaan Sriwijaya dan Majapahit memungkinkan tersebarnya
agama Islam.
E. Tersiarnya
Islam di Indonesia
Sebelum
Islam masuk ke Indonesia, agama Hindu dan Budha telah berkembang
luas di nusantara ini, disamping banyak yang masih menganut animism dan
dinamisme, ada beberapa saluran proses islamisasi di indonesia yaitu,
perdagangan, perkawinan, kesenian, sufisme, pendidikan.[9] Dan hal-hal lain lain sebagai berikut:
1. Terutama
sekali faktor agama Islam (aqidah, syariah dan akhlak islam) sendiri yang lebih
banyak “berbicara” kepada segenap lapisan masyarakat Indonesia.
2. Faktor
para mujtahid dakwah yang banyak terdiri atas para saudagar yang taraf
kebudayaannya sudah tinggi, yang telah berhasil membawakan Islam dan segala
kebijaksanaan kemahiran dan keterampilan
3. Ajaran
Islam tentang dakwah untuk menyampaikan ajaran Allah walaupun sekedar satu ayat
kepada segenap manusia di seluruh pelosok bumi telah menjadikan segenap kaum
muslimin menjadi umat dakwah.
4. Baik
agama Hindu maupun Budha pada umumnya dipeluk oleh orang-orang keraton yang
pada saat mulai tersebarnya Islam antara raja yang satu dengan yang lainnya
terlibat dalam perselisihan.
5. Pernikahan
antara para penyebar Islam dan orang-orang yang baru di islamkan melahirkan
generasi pelanjut yang menganut dan menyebarkan Islam.
KESIMPULAN
Islam
masuk di indonesia di perkirakan pada abad ke 7.
Ada
beberapa teori tentang masuknya islam di Indonesia diantara nya:
Teori
Mekkah, teori Gujarat teori persia, dan
teori dari cina. Semua teori tersebut memiliki landasan dan bukti
masing-masing tentang masuk nya islam di indonesia.
DAFTAR PUSTAKA
Haidar
Putra Daulay, Sejarah Pertumbuhan dan
Pembaruan Islam di Indonesia, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2007).
Syirifah
Sunanto, sejarah peradaban Islam, (jakarta: PT Bulan Bintang, 2005).
Samsul
Munir amin, Sejarah Peradaban Islam,
(jakarta: Amzah, 2010).
Samsul
Nijar, Sejarah Pendidikan Islam,
(jakarta: Kencana Prenada Media Group,2007).
[1]
Haidar Putra Daulay, Sejarah Pertumbuhan
dan Pembaruan Islam di Indonesia, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group,
2007). Hlm. 12.
[2]
Ibid., hlm 14
[3]
Syirifah Sunanto, sejarah peradaban Islam, (jakarta: PT Bulan Bintang, 2005), hlm. 7
[4]
Ibid., hlm. 10
[5]
Samsul Munir amin, Sejarah Peradaban
Islam, (jakarta: Amzah, 2010), hlm. 303
[6]
Ibid., hlm., 316.
[7]
Samsul Nijar, Sejarah Pendidikan Islam,
(jakarta: Kencana Prenada Media Group,2007), hlm. 279.
[8]
Syirifah Sunanto, op. cit., hlm. 29
[9]
Haidar Putra Daulay, op.cit., hlm. 14
Tidak ada komentar:
Posting Komentar