PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Kita sebagai umat islam yang
beriman kepada Allah SWT. sudah menjadi keharusan untuk mengerahui sejarah Nabi
Muhammad SAW. yang telah berjuang untuk Islam dan untuk umatnya. Satu-satunya
rasul Allah yang di utus untuk semua ras dan golongan adalah nabi muhammad SAW.
Karena ajarannya sangat universal, tidak hanya tentang ibadah dan keakhiratan
namun juga urusan-urusan duniawi yang mencakup semua sisi kehidupan manusa,
mulai dari masalah makan, hingga urusan kenegaraan. Namun demikian, masih
banyak orang yang buta terhadap pribadi dan kehidupan beliau.
Muhammad adalah nabi SAW. Terakhir
yang dikirim Allah kepada manusia sebagai pembawa agama paling akhir yaitu
agama islam yang merupakan agama paling sempurna dan beliau merupakan contoh
tauladan kepada umat manusia. Nabi muhammad di utus untuk menyempurnakan
ajaran-ajaran agama yang dibawa nabi-nabi sebelumnya. Karena para nabi sebelum
muhammad hanya menyampaikan ajaran tentang kebaikan kepada umat yang di
pimpinnya. Sedangkan nabi muhammad berkewajiban menunjukkan kebaikan kepada
umat sepanjang zaman.
Nabi Muhammad lahir di
Makkah pada hari senin tanggal 12 rabi’ul awal 570 M. Dan di sebut juga sebagai
tahun gajah. Penamaan tahun gajah berkaitan dengan peristiwa pasukan gajah yang
dipimpin oleh Abrahah, Gubernur Krajaan Habsy yang ingin menghancurkan Ka’bah yang berada
kota Mekkah dengan menunggangi Gajah, maka tahun itu sebut dengan tahun Gajah. Nabi
Muhammad adalah anggota dari bani Hasyim. Keluarga Nabi Muhammad merupakan
keluarga terhormat namun tergolong keluarga miskin. Nabi Muhammad putra dari
pasangan Abdullah bin Abdul muthalib
dengan Aminah binti Wahab. Ayah Nabi Muhammad meninggal dunia ketika Nabi Muhammad
masih dalam kandungan ibunya.[1]
Setelah Nabi Muhammad lahir,
beliau disambut dengan penuh kasih sayang dan dibawa Keka’bah, kemudian
diberinama Muhammad, nama yang belum pernah ada sebelumnya, selepas itu Nabi
Muhammad disusukan selama beberapa hari oleh Thuwaiba, budak suruhan Abu Lahab,
sementara menunggu kedatangan wanita dari Banu Sa’ad. Adat menyusukan bayi
sudah menjadi kebiasaan bagi bangsawan-bangsawan di Makkah. Kemudian baginda di
serahkan kepada ibu pengasuh yang bernama Halimah Sa’diyyah Bin Abi-Dhuaib sampai
berusia empat tahun. Pada mulanya Halimah tidak mahu menerima baginda karena
Nabi Muhammad seorang anak yatim. Namun walaupun begitu Halimah membawa pulang
juga Nabi Muhammad ke Pedalaman dengan harapan Tuhan akan memberkati
keluarganya.
Sejak di ambilnya Nabi Muhammad
sebagai anak susuan, kambing ternekan dan susu kambing-kambing tersebut semakin
bertambah. Pada usianya yang 2 tahun, baginda didatangi oleh dua orang Malaikat
yang muncul sebagai lelaki yang berpakaian putih. Mereka bertanggung jawab
untuk membedah Nabi Muhammad. Pada ketika itu Halimah dan suaminya tidak
menyadari akan kejadian tersebut hanya anak mereka yang sebaya menyaksikan kedatangan
kedua Malaikat tersebut lalu mengkhabar kepada Halimah. Halimah lantas
memerikas keadaan Nabi Muhammad namun tiada kesan yang aneh ditemui. Selama Nabi
Muhammad tinggal bersama keluarga Halimah, ia mendapatkan kasih sayang,
kebebasan jiwa, dan penjagaan yang baik dari Halimah dan keluarganya.
Nabi Muhammad dibawa pulang
oleh kakeknya Abdul Muthalib, Kemudian beliau di asuh oleh ibundanya yaitu
Aminah kurang lebih dua tahun. Ketika Aminah membawa anaknya itu ke Madinah untuk
bertemu saudara maranya, mereka ditemani oleh Ummu Aiman, budak suruhan
perempuan yang ditinggalkan oleh bapak Nabi Muhammad. Nabi Muhammad ditunjukan tempat
wafatnya Abdullah (ayahnya) serta tempat ayahnya dikuburkan.
Sesudah sebulan mereka
berada di Madinah, Aminah pun bersiap sedia untuk pulang ke Makkah. Dia dan
rombongan kembali ke Makkah menaiki dua ekor unta yang memang dibawa dari
Makkah semasa mereka datang. Namun begitu mereka sampai di Abwa, Aminah jatuh
sakit dan akhirnya meninggal dunia lalu dikuburkan disitu juga.
Setelah ibunya meninggal, Nabi
Muhammad dibawa pulang ke Makkah oleh Ummu Aiman dengan perasaan yang sangat
sedih. Maka jadilah Nabi Muhammad sebagai seorang anak yatim piatu yang tinggal bersama kakeknya Abdul Muthalib dan
pamannya. Sayangnya Nabi Muhammad hanya tinggal bersama kakeknya dua tahun
karena kakeknya juga meninggal dunia pada usia Muhammad delapan tahun. Tanggung
jawab selanjutnya beralih kepada pamannya Abu Thalib. Abu Muthalib ini sangat
disegani dan di hormati oleh suku Quraiys dan penduduk Makkah walaupun
kehidupannya tergolong miskin.
Nabi Muhammad hidup sebagai
pengembala kambing keluarganya dan kambing penduduk Makkah. Dan Nabi Muhammad
selalu berfikir dan merenung tentang kejadian alam semesta menjalankan
tugasnya. Oleh sebab itu Nabi Muhammad jauh dari segala pemikiran manusia nafsu
manusia duniawi. Nabi Muhammad terhindar dari pada perbuatan yang sia-sia. Dan hanya
bisa merusak namanya, jadi beliau terhindar dari semua itu. [2]
Pada usia 12 tahun Nabi Muhammad
pertama kalinya mengikuti Kafilah dagang ke syria (syam) yang dipimpin oleh Abu
Thalib. Dalam perjalanannya di Bushara sebelah selatan syria beliau bertemu
dengan seorang Pendeta Kristenyang bernama Bu-hairah. Pendeta ini melihat
tanda-tanda kenabian pada diri Nabi Muhammad sesuai dengan petunjuk
cerita-cerita Kristen kemudian ia memberikan nasehat kepada Abu Thalib agar
tidak terlalu jauh berdagang dan memasuki daerah Syria sebab dikhawatirkan
orang-orang Yahudi yang mengetahui tanda-tanda kenabian tersebut akan berbuat
jahat kepada Nabi. Abu Thalib mengikuti nasehat dari pendeta itu dan diapun
memang tidak banyak membawa harta dari perjalanan tersebut. Nabi Muhammad disuruh
Abu Thalib berangkat ke Syria pada usia 25 tahun untuk membawa barang dagangan
sudagar wanita kaya raya yang telah lama menjanda yang bernama Khadijah, baginda
melaksanakan tugas tersebut dengan ikhlas dan jujur.[3]
Khadijah amat tertarik
dengan perwatakan mulia Nabi Muhammad dan upayaan Nabi Muhammad sebagai seorang
pedagang. Lalu dia meluahkan isi hatinya ingin menikah dengan Nabi Muhammad
yang Pada saat itu usianya baru 25 tahun, wanita
bangsawan yang berusia 40 tahun itu sangat gembira apabila Nabi Muhammad
menerima lamarannya. Lalu menikahlah Nabi Muhammad dengan Khadijah binti
Khuwailid, seorang janda kaya yang pernah barang-barangnya di bawa berdagang ke
Syiria yang berusia 40 tahun itu. Bermulalah lembaran baru dalam hidup Nabi
Muhammad dan Khadijah sebagai suami istri.
Khadijah merupakan wanita pertama yang memeluk islam dan dia banyak
membantu Nabi dalam perjuangan penyebaran agama Islam.
Dalam perkawinannya beliau di karuniai enam
orang anak, dua orang lelaki dan empat orang perempuan. Yaitu: Al-Qasim,
Abdullah, Zaynab, Ruqayyah, Ummu Kultsum dan Fatimah. Kedua putranya meninggal
waktu masih kecil. Nabi Muhammad tidak menikah sampai Khadijah meninggal dunia.
Khadijah meninggal dunia pada tahun 619 M ketika usia Nabi Muhammad 50 tahun.[4]
Pada usianya yang 35 tahun ada terjadi suatu
peristiwa hebat yang memperlihatkan kebijakan beliau yaitu pada saat itu Ka’bah
rusak berat, dan para penduduk dan nabi melakukan perbaikan ka’bah dengan cara
bergotong royong. Namun, ketika pekerjaan hampir selesai hanya tinggal
mengangkat dan meletakkan batu hajar Aswat di tempat asalnya, terjadi
perselisihan yaitu Semua suku ingin melakukan perkerjaan tersebut.
Perselisihanpun makin menjadi-jadi dan akhirnya pemimpin Quraiys sepakat kalau
orang yang pertama masuk ke ka’bah melalui pintu Shafa, akan menjadi hakim
untuk memutuskan perkara tersebut.
Ternyata, Nabi Muhammad lah
orang yang pertama masuk kedalam Ka’bah itu dan beliau di percaya untuk menjadi
hakim. Kemudian Nabi Muhammad membentangkan kain dan meletakkan batu Hajar
Aswat, dan meminta para kepala suku untuk memegang sisi kain dan
mengangkat mengangkat secara
bersama-sama. Setelah sampai pada ketinggian tertentu Nabi Muhammad meletakkan
batu itu pada tempatnya semula dan perselisihan dapat di selesaikan secara
bijaksana dan semua kepala suku merasa puas dengan cara beliau tersebut.
Sebelum beliau di angkat menjadi Nabi beliau sudah di beri gelar Al-amin karena
kejujurannya.[5]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar