Turbo

Selasa, 17 November 2015

Sejatrah Singkat Kelahiran - menikah Nya Nabi Muhammad SAW

PENDAHULUAN

A.   Latar belakang
Kita sebagai umat islam yang beriman kepada Allah SWT. sudah menjadi keharusan untuk mengerahui sejarah Nabi Muhammad SAW. yang telah berjuang untuk Islam dan untuk umatnya. Satu-satunya rasul Allah yang di utus untuk semua ras dan golongan adalah nabi muhammad SAW. Karena ajarannya sangat universal, tidak hanya tentang ibadah dan keakhiratan namun juga urusan-urusan duniawi yang mencakup semua sisi kehidupan manusa, mulai dari masalah makan, hingga urusan kenegaraan. Namun demikian, masih banyak orang yang buta terhadap pribadi dan kehidupan beliau.
Muhammad adalah nabi SAW. Terakhir yang dikirim Allah kepada manusia sebagai pembawa agama paling akhir yaitu agama islam yang merupakan agama paling sempurna dan beliau merupakan contoh tauladan kepada umat manusia. Nabi muhammad di utus untuk menyempurnakan ajaran-ajaran agama yang dibawa nabi-nabi sebelumnya. Karena para nabi sebelum muhammad hanya menyampaikan ajaran tentang kebaikan kepada umat yang di pimpinnya. Sedangkan nabi muhammad berkewajiban menunjukkan kebaikan kepada umat sepanjang zaman.









Nabi Muhammad lahir di Makkah pada hari senin tanggal 12 rabi’ul awal 570 M. Dan di sebut juga sebagai tahun gajah. Penamaan tahun gajah berkaitan dengan peristiwa pasukan gajah yang dipimpin oleh Abrahah, Gubernur Krajaan Habsy  yang ingin menghancurkan Ka’bah yang berada kota Mekkah dengan menunggangi Gajah, maka tahun itu sebut dengan tahun Gajah. Nabi Muhammad adalah anggota dari bani Hasyim. Keluarga Nabi Muhammad merupakan keluarga terhormat namun tergolong keluarga miskin. Nabi Muhammad putra dari pasangan Abdullah bin  Abdul muthalib dengan Aminah binti Wahab. Ayah Nabi Muhammad meninggal dunia ketika Nabi Muhammad masih dalam kandungan ibunya.[1]
Setelah Nabi Muhammad lahir, beliau disambut dengan penuh kasih sayang dan dibawa Keka’bah, kemudian diberinama Muhammad, nama yang belum pernah ada sebelumnya, selepas itu Nabi Muhammad disusukan selama beberapa hari oleh Thuwaiba, budak suruhan Abu Lahab, sementara menunggu kedatangan wanita dari Banu Sa’ad. Adat menyusukan bayi sudah menjadi kebiasaan bagi bangsawan-bangsawan di Makkah. Kemudian baginda di serahkan kepada ibu pengasuh yang bernama Halimah Sa’diyyah Bin Abi-Dhuaib sampai berusia empat tahun. Pada mulanya Halimah tidak mahu menerima baginda karena Nabi Muhammad seorang anak yatim. Namun walaupun begitu Halimah membawa pulang juga Nabi Muhammad ke Pedalaman dengan harapan Tuhan akan memberkati keluarganya.
Sejak di ambilnya Nabi Muhammad sebagai anak susuan, kambing ternekan dan susu kambing-kambing tersebut semakin bertambah. Pada usianya yang 2 tahun, baginda didatangi oleh dua orang Malaikat yang muncul sebagai lelaki yang berpakaian putih. Mereka bertanggung jawab untuk membedah Nabi Muhammad. Pada ketika itu Halimah dan suaminya tidak menyadari akan kejadian tersebut hanya anak mereka yang sebaya menyaksikan kedatangan kedua Malaikat tersebut lalu mengkhabar kepada Halimah. Halimah lantas memerikas keadaan Nabi Muhammad namun tiada kesan yang aneh ditemui. Selama Nabi Muhammad tinggal bersama keluarga Halimah, ia mendapatkan kasih sayang, kebebasan jiwa, dan penjagaan yang baik dari Halimah dan keluarganya.
Nabi Muhammad dibawa pulang oleh kakeknya Abdul Muthalib, Kemudian beliau di asuh oleh ibundanya yaitu Aminah kurang lebih dua tahun. Ketika Aminah membawa anaknya itu ke Madinah untuk bertemu saudara maranya, mereka ditemani oleh Ummu Aiman, budak suruhan perempuan yang ditinggalkan oleh bapak Nabi Muhammad. Nabi Muhammad ditunjukan tempat wafatnya Abdullah (ayahnya) serta tempat ayahnya dikuburkan.
Sesudah sebulan mereka berada di Madinah, Aminah pun bersiap sedia untuk pulang ke Makkah. Dia dan rombongan kembali ke Makkah menaiki dua ekor unta yang memang dibawa dari Makkah semasa mereka datang. Namun begitu mereka sampai di Abwa, Aminah jatuh sakit dan akhirnya meninggal dunia lalu dikuburkan disitu juga.
Setelah ibunya meninggal, Nabi Muhammad dibawa pulang ke Makkah oleh Ummu Aiman dengan perasaan yang sangat sedih. Maka jadilah Nabi Muhammad sebagai seorang anak yatim piatu yang  tinggal bersama kakeknya Abdul Muthalib dan pamannya. Sayangnya Nabi Muhammad hanya tinggal bersama kakeknya dua tahun karena kakeknya juga meninggal dunia pada usia Muhammad delapan tahun. Tanggung jawab selanjutnya beralih kepada pamannya Abu Thalib. Abu Muthalib ini sangat disegani dan di hormati oleh suku Quraiys dan penduduk Makkah walaupun kehidupannya tergolong miskin.
Nabi Muhammad hidup sebagai pengembala kambing keluarganya dan kambing penduduk Makkah. Dan Nabi Muhammad selalu berfikir dan merenung tentang kejadian alam semesta menjalankan tugasnya. Oleh sebab itu Nabi Muhammad jauh dari segala pemikiran manusia nafsu manusia duniawi. Nabi Muhammad terhindar dari pada perbuatan yang sia-sia. Dan hanya bisa merusak namanya, jadi beliau terhindar dari semua itu. [2]
Pada usia 12 tahun Nabi Muhammad pertama kalinya mengikuti Kafilah dagang ke syria (syam) yang dipimpin oleh Abu Thalib. Dalam perjalanannya di Bushara sebelah selatan syria beliau bertemu dengan seorang Pendeta Kristenyang bernama Bu-hairah. Pendeta ini melihat tanda-tanda kenabian pada diri Nabi Muhammad sesuai dengan petunjuk cerita-cerita Kristen kemudian ia memberikan nasehat kepada Abu Thalib agar tidak terlalu jauh berdagang dan memasuki daerah Syria sebab dikhawatirkan orang-orang Yahudi yang mengetahui tanda-tanda kenabian tersebut akan berbuat jahat kepada Nabi. Abu Thalib mengikuti nasehat dari pendeta itu dan diapun memang tidak banyak membawa harta dari perjalanan tersebut. Nabi Muhammad disuruh Abu Thalib berangkat ke Syria pada usia 25 tahun untuk membawa barang dagangan sudagar wanita kaya raya yang telah lama menjanda yang bernama Khadijah, baginda melaksanakan tugas tersebut dengan ikhlas dan jujur.[3]
Khadijah amat tertarik dengan perwatakan mulia Nabi Muhammad dan upayaan Nabi Muhammad sebagai seorang pedagang. Lalu dia meluahkan isi hatinya ingin menikah dengan Nabi Muhammad yang  Pada  saat itu usianya baru 25 tahun, wanita bangsawan yang berusia 40 tahun itu sangat gembira apabila Nabi Muhammad menerima lamarannya. Lalu menikahlah Nabi Muhammad dengan Khadijah binti Khuwailid, seorang janda kaya yang pernah barang-barangnya di bawa berdagang ke Syiria yang berusia 40 tahun itu. Bermulalah lembaran baru dalam hidup Nabi Muhammad dan Khadijah sebagai suami istri.  Khadijah merupakan wanita pertama yang memeluk islam dan dia banyak membantu Nabi dalam perjuangan penyebaran agama Islam.

 Dalam perkawinannya beliau di karuniai enam orang anak, dua orang lelaki dan empat orang perempuan. Yaitu: Al-Qasim, Abdullah, Zaynab, Ruqayyah, Ummu Kultsum dan Fatimah. Kedua putranya meninggal waktu masih kecil. Nabi Muhammad tidak menikah sampai Khadijah meninggal dunia. Khadijah meninggal dunia pada tahun 619 M ketika usia Nabi Muhammad 50 tahun.[4]
 Pada usianya yang 35 tahun ada terjadi suatu peristiwa hebat yang memperlihatkan kebijakan beliau yaitu pada saat itu Ka’bah rusak berat, dan para penduduk dan nabi melakukan perbaikan ka’bah dengan cara bergotong royong. Namun, ketika pekerjaan hampir selesai hanya tinggal mengangkat dan meletakkan batu hajar Aswat di tempat asalnya, terjadi perselisihan yaitu Semua suku ingin melakukan perkerjaan tersebut. Perselisihanpun makin menjadi-jadi dan akhirnya pemimpin Quraiys sepakat kalau orang yang pertama masuk ke ka’bah melalui pintu Shafa, akan menjadi hakim untuk memutuskan perkara tersebut.
Ternyata, Nabi Muhammad lah orang yang pertama masuk kedalam Ka’bah itu dan beliau di percaya untuk menjadi hakim. Kemudian Nabi Muhammad membentangkan kain dan meletakkan batu Hajar Aswat, dan meminta para kepala suku untuk memegang sisi kain dan mengangkat  mengangkat secara bersama-sama. Setelah sampai pada ketinggian tertentu Nabi Muhammad meletakkan batu itu pada tempatnya semula dan perselisihan dapat di selesaikan secara bijaksana dan semua kepala suku merasa puas dengan cara beliau tersebut. Sebelum beliau di angkat menjadi Nabi beliau sudah di beri gelar Al-amin karena kejujurannya.[5]




[1]  Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam  (Jakarta: PT Rajagrapindo Persada, 2010), hlm. 9.

[2] Ibid., hlm. 17.
[3] Ibid., hlm. 16-17
[4] Jamhari Makruf, Pendidikan Agama Islam (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2012), hlm. 267.
[5] Badri Yatim, op. cit, hlm. 18

Tidak ada komentar:

Posting Komentar